Written by Dimas Gityandraputra | 24 Jan 2019 | 4 min read | Content Marketing

Filosofi Kopi: Bertransformasi dari Cerpen, Film, Hingga Brand Penggerak Kultur Kopi

Nama Filosofi Kopi mungkin sudah menjadi top of mind di kalangan anak muda Jakarta ketika mereka sedang ingin menikmati secangkir kopi di sebuah kedai. Berawal dari sebuah cerpen karya Dewi Lestari, lalu diadaptasi menjadi sebuah film, hingga akhirnya diwujudkan dalam bentuk kedai kopi, saat ini masyarakat sudah tidak lagi cuma bisa membayangkan seperti apa rasa kopi yang diseruput oleh Ben atau Jodi (tokoh dalam cerpen dan film Filosofi Kopi yang diperankan Chico Jericho dan Rio Dewanto), tapi mereka bisa mengalami pengalaman nyata menikmati rasa kopi itu.

Perjalanan Filosofi Kopi sebagai kedai atau brand berangkat dari tekad dari para pendirinya, Angga Sasongko selaku sutradara film tersebut, Anggia Kharisma, produser, Chico Jericho, pemeran Ben, Rio Dewanto, pemeran Jodi, dan Handoko Hendroyono, sang produser, untuk memulai sebuah produk nyata yang diadaptasi dari sebuah konten film. Dan karena tekad dan narasi yang kuat tersebut, tak dapat dipungkiri membuat Filosofi Kopi menjadi lokomotif dalam perkembangan coffee culture di Indonesia.

Baca Juga: Memahami Apa itu Content Marketing

Perkembangan Filosofi Kopi di tengah coffee culture di Indonesia

Salah satu co-founder Filosofi Kopi, Handoko Hendroyono mengungkapkan bahwa, ketika Filosofi Kopi lahir, sebenarnya sudah ada coffee culture di dunia dan seiring berjalannya waktu sampai juga di Indonesia. “Kalau dibilang, apakah kita membentuk coffee culture, sebenarnya ada dua sisi. Yang satu, kita menangkap coffee culture, itu yang paling fair, karena pada waktu bikin film ini kita juga belajar dari teman-teman yang lain (toko kopi lainnya),” ungkap Handoko.

Walau memang coffee culture ini dapat dibilang sudah hadir di Indonesia, tetapi meledaknya film Filosofi Kopi membuat gairah anak muda akan kopi ini menjadi lebih kuat lagi. Sehingga dapat dikatakan kalau kelahiran coffee culture di Indonesia bersamaan juga dengan hadirnya Filosofi Kopi.

Memahami Apa itu Content MarketingSumber Gambar: Instagram @filosofikopi

“Kalau mau disimpulkan, mungkin bersamaan ya. Dan mungkin kalau orang beranggapan dan saya enggak berani ngomong, beranggapan bahwa Filosofi Kopi ikut andil dalam hal membangkitkan coffee culture, kita enggak bisa menolak, terutama di daerah. Karena gimana pun juga, Ben dan Jodi, Chiko dan Rio itu menjadi hero-nya kopi. Kalau menurut saya memang membangun brand itu membangun kultur. Dan Filosofi Kopi kayaknya, membangun kultur kopi yang cukup spesifik. Nongkrong, foto, destinasi, gitu-gitu,” lanjut Handoko.

Menjawab ekspektasi pembaca dan penontonnya

Tentu tidak mudah ketika membuat sebuah brand diangkat dari sebuah film ataupun cerpen. Karena di dalamnya sudah ada ekspektasi tersendiri dari para penikmatnya. Dan hal ini akan memberikan ruang gerak yang cukup sempit bagi produk terkait. Namun dengan narasi yang cukup kuat, ekspektasi dari para penonton ini malah menjadi satu kekuatan tersendiri bagi Filosofi Kopi dan memberikan para penikmatnya suatu pengalaman nyata yang membawa mereka ingin terus kembali ke kedai kopi sederhana di bilangan Melawai, Jakarta Selatan ini.

“Kalau tadi ngomong dari ekspektasi penonton, terbukti kedainya itu saling mengisi, antara, katakanlah story di novel, di film, terus di real experience-nya. Sampai sekarang, saya lihat, orang yang foto itu masih ada, walaupun sudah tiga/empat tahun berlangsung. Jadi dengan kata lain engagement-nya cukup tinggi. Kalau saya lihat (kedai kopi ini) memberikan sebuah kenangan yang cukup kuat dengan audiensnya. Itu terlihat di bajunya, di kopi juga, dan di produk-produknya itu terasa sekali. Mereka terbawa oleh narasi yang ada di film,” jawab Handoko mengenai ekspektasi penonton terhadap brand yang dikelolanya.

Walau begitu, tidak dapat dipungkiri kalau peran film Filosofi Kopi ini cukup signifikan bagi perkembangan brand tersebut. Misalnya saja, di era digital ini, mungkin Filosofi Kopi menjadi satu-satunya kedai kopi yang tidak menyediakan Wi-Fi di dalam tokonya, di tengah fenomena kebutuhan akan eksistensi para anak muda terhadap dunia digital. Walau begitu, Filosofi Kopi justru bisa mengubah kekurangan itu, menjadi kekuatan, dan mengajak para anak muda ini untuk mau datang, mengobrol dan bukan malah kerja sendiri atau asik sendiri. Sehingga konsep yang ingin disampaikan oleh Filosofi Kopi yakni, ingin menjadikan tempat yang santai, tidak intimidating, namun memiliki kopi yang bertanggung jawab menjadi terlaksana. Dan hal ini dapat terjadi karena narasi yang kuat di dalam film yang ditayangkan.

“Kalau di marketing hari ini, selalu paradoks. Misalnya ada seseorang yang butuh internetan atau butuh Wi-Fi, juga ada yang sudah jenuh juga. Jadi kita, justru memberanikan diri, mungkin satu-satunya yang enggak ada Wi-Fi, justru itu yang membuat kita stand out. Mungkin kelebihannya karena kita punya film, kita berani ngomong. Kita enggak ada Wi-Fi, kita di sini mau nikmatin kopi, ngobrol sama teman, menikmati kegembiraan kopi,” kata Handoko.

Memahami Apa itu Content Marketing

Handoko Hendroyono, Co-Founder Filosofi Kopi (Sumber: Instagram @handoko_h)

Berbicara soal marketing yang dijalankan Filosofi Kopi

Ada banyak juga strategi marketing yang dijalankan oleh Filosofi Kopi selama berdiri. Salah satunya adalah dengan cara melakukan kolaborasi dengan para seniman. “Jadi kolaborasi tuh macam-macam, misal, di kaos, baju itu kita sering kolaborasi sama artis-artis. Jadi strateginya sebenarnya ajak sebanyak mungkin orang untuk berkolaborasi. Kebetulan melalui film sendiri, mengajak banyak kelompok ya. Baik itu artis, pemain film, musisi, segala macam. Dan kita juga membina hubungan yang baik dengan kedai-kedai kopi yang lain. Tidak menganggap kompetisi, mungkin strategi yang kolaboratif itu yang akan kita kembangkan terus sih,” ujar Handoko mengenai strategi marketing yang dijalankan.

Selain kolaborasi, Filosofi Kopi juga menjalankan beragam campaign di media digital. “Kita banyak melakukan, yang menurut saya breakthrough ya. Misalnya waktu kita launching produk fashion, kita dengan sangat berani bikin campaign yang mengajak orang biasa (misalnya, driver ojek online). Saya sih cukup bangga dengan output tim yang seperti ini, dan ini responnya cukup bagus. Jadi sebenarnya dengan pendekatan real people ini, cukup efektif, atau cukup menyenangkan. Bahwa menjadi tidak jaim, menjadi diri sendiri itu seru juga. Maksudnya, kita coba bikin sesuatu yang enggak intimidating lah, milih talent-nya juga bukan yang ganteng-ganteng, justru yang biasa-biasa saja,” salah satu trik campaign digital yang dijalankan Filosofi Kopi seperti yang diutarakan Handoko.

Baca Juga: Eatlah: Sukses Membangun Bisnis dengan Modal Kecil

Benang merah antara cerpen, film, dan brand Filosofi Kopi

Saat ditanya mengenai apa yang menjadi benang merah antara ketiga unsur yang dimiliki oleh Filosofi Kopi, Handoko menjawab bahwa “Sebenarnya kalau menurut saya, perayaan tentang kopi. Kita merayakan serunya kopi, dalam hal ini kopi Indonesia. Kalau kita ngomong celebrate coffee, kopi Indonesia yang hebat itu kan perlu dirayakan dalam arti yang positif. Jadi kalau menurut saya, Mbak Dewi (Lestari/ Dee) dengan cerpennya kan ngomongin soal keberpihakkan dia terhadap kopi Indonesia. Filmnya juga begitu. Kedainya juga begitu. Jadi secara autentik Filosofi Kopi itu cerita tentang keberpihakan seorang Dewi Lestari terhadap kopi Indonesia,” ungkap Handoko menutup malam yang sedang hujan kala itu.

Memahami Apa itu Content MarketingKedai Filosofi Kopi Jogja (Sumber Gambar: Instagram @filosofikopi)

Marketing report
you should read

whitepaper download image no BG See the report
 

Any comment?

Related articles